Minggu, 28 April 2013

Gametogenesis Veteriner



Gametogenesis merupakan proses pembentukan gamet (sel kelamin) yang terjadi melalui pembelahan meiosis. Gametogenesis berlangsung pada sel kelamin dalam alat perkembang biakan. Gametogenesis meliputi spermatogenesis (pembentukan spermatozoa atau sperma) dan Oogenesis (pembentukan ovum) (Wahyu, 1990).

Spermatogenesis

Spermatogenesis adalah proses pembentukan sperma. Spermatogenesis berlangsung di testis. Pada testis terdapat jaringan bernama tubulus seminiferus. Dinding tubulus seminiferus terdapat banyak sel germinal yang akan berubah menjadi sperma melalui meiosis. (Johnson 2002 : 1202).

Spermatogenesis terjadi di testis. Didalam testis terdapat tublus seminiferus. Dinding tubulus seminiferus terdiri dari jaringan epitel dan jaringan ikat, pada jaringan epithelium terdapat sel – sel spermatogonia dan sel sertoli yang berfungsi member nutrisi pada spermatozoa. Selain itu pada tubulus seminiferus terdapat pula sel leydig yang mengsekresikan hormone testosterone yang berperan pada proses spermatogenesis (Guyton, 2006).

Spermatogonia membelah diri secara mitosis sehingga menghasilkan lebih banyak spermatogonia. Beberapa spermatogonia membelah diri kembali, sedangkan lainnya berkembang menjadi spermatosit primer yang juga mengandung kromosom. Sel – sel spermatosit primer tersebut kemudian membelah secara meiosis nebjadi dua spermatosit sekunder, selanjutnya spermatosit sekunder membelah lagi secara meiosis menjadi empat spermatid. Selanjutnya spermatid berdiferensi menjadi sel kelamin dewasa(masak) yang disebut spermatozoa atau sperma. Proses pemasakan spermatosit menjadi sperma dinamakan spermatogenesis dan terjadi didalam epidemis. (Toelihere, 1981).

  Sperma dewasa terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, bagian tengah dan ekor (flagelata. Kepala sperma mengandung nucleus. Bagian ujung kepala ini mengandung akrosom yang menghasilkan enzim yang berfungsi untuk menembus lapisan – lapisan sel telur pada waktu fertilisasi. Bagian tengah sperma mengandung mitokondria yang menghasilkan ATP sebagai sumber energy untuk pergerakan sperma. Ekor sperma berfungsi sebagai alat gerak (Scanlon, 2003).

Oogenesis

Oogenesis merupakan proses pematangan ovum di dalam ovarium. Tidak seperti spermatogenesis yang dapat menghasilkan jutaan spermatozoa dalam waktu yang bersamaan, oogenesis hanya mampu menghasilkan satu ovum matang sekali waktu. Mari kita simak prosesnya lebih lanjut (Sherwood, 2001):
Proses oogenensis dipengaruhi oleh beberapa hormon yaitu (Scanlon, 2003):
a.       Hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone)
Berfungsi untuk merangsang pertumbuhan sel-sel folikel
b.      Hormon LH (Luteinizing Hormone)
Berfungsi merangsang terjadinya ovulasi (yaitu proses pengeluaran sel ovum)
c.       Hormon estrogen
Estrogen berfungsi menimbulkan sifat kelamin sekunder
d.      Hormon progesteron
Hormon progesteron berfungsi juga untuk menebalkan dinding endometrium.

Pada masa pubertas, oosit primer mengadakan pembelahan meiosis I menghasilkan satu sel oosit sekunder yang besar dan satu sel badan kutub pertama (polar body primer) yang lebih kecil. Perbedaan bentuk ini disebabkan sel oosit sekunder mengandung hampir semua sitoplasma dan kuning telur, sedangkan sel badan kutub pertama hanya terdiri dari nucleus saja. Oosit sekunder ini mempunyai kromosom setengah kromosom oosit primer.) (Guyton, 2006).
Pada tahap selanjutnya, oosit sekunder dan badan kutub primer akan mengalami pembelahan miosis II.  Pada saat itu, oosit sekunder akan membelah menjadi dua sel, yaitu satu sel berukuran normal disebut ootid dan satu lagi berukuran lebih kecil disebut badan polar sekunder. Badan kutub tersebut bergabung dengan dua badan kutub sekunder lainnya yang berasal dari pembelahan badan kutub primer sehingga diperoleh tiga badan kutub sekunder. Ootid mengalami perkembangan lebih lanjut menjadi ovum matang, sedangkan ketiga badan kutub mengalami degenerasi (hancur). Dengan demikian dapat disimpulkan  bahwa pada oogenesis hanya menghasilkan satu ovum.
Tahap pembelaham meiosis I dan II pada Oogenesis adalah sebagai berikut: (Radiopoetro, 2000)
1.             Miosis I
a.       Profase 1
b.      Metafase I
c.       Anafase I
d.      Telofase 1
2.             Miosis 2
a.         Profase II
b.        Metafase II
c.         Anafase II
d.        Telofase II



Guyton & Hall. 2006. Textbook of Medical Physiology. Philadelphia. Elsevier Saunders.
Johnson, George B. 2003. The Living World. Ed. ke-5. McGraw-Hill, New York : 79 hlm.
Radiopoetro, 2000.Sistem Reptroduksi Manusia. Jakarta: Erlangga (halaman.176-177)
Scanlon & Sanders. 2003. Essential of Anatomy and Physiology. Philadelphia : F. A. Davis Company.
Sherwood, lauralee. 2001. Fisiologi Hewan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Toelihere, Mozes. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Bandung : Penerbit Angkasa.
Wahyu, Hary. 1990. Diktat Asistensi Anatomi Hewan-Zoologi. Yogyakarta. Jurusan Zoologi UGM.

1.        Gilbert, S.F. 1985. Developmental Reproductive Biology. Sunderland: Sinauere Associates Inc.
2.        Johnson, M., Everitt, B. 1990. Essential in Reproduction. London: Blackwell Science Pub Oxford.
3.        Oakberg, E.P. 1956. A Description of Spermatogenesis in the Mouse and Its Use in Analysis of the Cycle of Seminiferous Epithellium and Germ Cell Renewal. Messachuset: American Jurnal of Anatomy.
4.        Subratha, I.M. 1998. Spermatogenesis, Kontrol Endokrin dan Struktur Spermatozoa. Denpasar: Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
5.        Barlian, dkk. 2009. Gametogenesis. SITH ITB : Bandung.
6.        Isnaeni, wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Penerbit Kanisius : Yogyakarta.
7.        Syamsuri, Istamar. 2003. Biologi SMA kelas IX. Erlangga. Jakarta.
8.        Toelihere, M. R. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar